Pernahkah Anda mempertanyakan atau membayangkan bagaimana kehidupan Indonesia ketika masih di bawah kolonialisme Belanda? Sejak masih kuliah jurusan sejarah (dan sampai saat ini), saya selalu menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan berarti antara masa sekarang dan masa lalu. Yang membedakan hanyalah “mengganti” orangnya saja (segi tata negara), dari orang-orang Belanda ke Indonesia—atau dekolonisasi tanpa dekolonialisasi. Secara sistem maupun realitas kehidupan sehari-hari, setelah membaca beberapa bab buku ini, kesimpulan saya mengenai masa lalu dan masa sekarang tetap sama (lain cerita bila menambahkan variabel dampak kolonialisme).
Meskipun demikian, bila pertanyaan itu membutuhkan gambaran yang jelas, ada baiknya Anda membaca buku terbaru dari Alicia Schrikker, Kupu-kupu Boven Digoel.1 Ketika pertama kali membacanya, saya teringat 7 jilid buku Petite Histoire-nya (Sejarah Kecil) Rosihan Anwar.2 Dan memang, buku Schrikker bukanlah karya yang membahas tema tertentu atau peristiwa khusus. Setiap bab dalam bukunya memiliki tema berlainan dan berdiri sendiri; masing-masing menawarkan sudut pandang yang berbeda tentang dunia kolonial. Judul besar bukunya, “Kupu-kupu Boven Digoel”, hanyalah satu judul bab terakhir di dalamnya.
| Judul Buku | Kupu-kupu Boven Digoel: Kumpulan Pergulatan Hidup Manusia di Pinggiran Kolonialisme |
| Penulis | Alicia Schrikker |
| Penerjemah | Rianti D. Manullang |
| Penerbit | Elex Media Kumputindo |
| Tahun Terbit | 2024 |
| Jumlah Halaman & Ukuran | xxi + 324; 14×21 cm |
| ISBN | 9786230060793 |
Tiga Tema Utama
Jika membacanya secara utuh, buku Schrikker ini walaupun kisah-kisahnya tampak acak, tapi punya hubungan cerita yang sama; yaitu melihat orang-orang yang harus berurusan dengan kolonialisme atau yang membentuk dunia kolonial melalui cara mereka bertindak dan hubungan yang mereka bangun. Dari 12 bab nano-nano di dalam buku ini, Schrikker secara longgar mengelompokkannya di sekitar tiga tema: Kekuasaan dan kontak, perbudakan, serta pengetahuan dan bencana.
Di bab-bab pertama yang dikelompokkan dalam tema “kekuasaan dan kontak”, Schrikker memulai cerita di dalam bukunya dengan membahas sejarah keluarga. Menurutnya eksplorasi untuk melihat dunia kolonial tidak harus dimulai dari institusi/negara kolonial. Misalnya dalam menelusuri asal-usul keluarga Ludovica yang dulu tinggal di Semarang, si penulis mencoba menunjukkan hubungan pribadi lokal (relasi) merupakan kunci untuk memperoleh kekuasaan finansial. Selain itu, kekuasaan dan relasi bagi saya justru terlihat ketika penulis membahas mengenai para Raja Putih (yang terkenal yaitu James Brooke, si Raja Putih dari Sarawak). Orang-orang kolonial yang berkuasa di wilayah-wilayah pinggiran, di sudut-sudut kecil yang jauh dari pusat kekuasaan, membentuk dunianya sendiri—juga punya aturan semaunya. Menurut saya, di sini ia ingin menunjukkan segregasi kekuasaan yang timpang di antara masyarakat jajahan.

Melihat lebih jauh keseharian dunia kolonial memang perlu untuk membahas perbudakan. Walaupun pada masa pascakolonial sekarang ini terminologi “perbudakan” tidak banyak lagi digunakan, tapi bentuk-bentuknya yang mirip masih tetap ada sampai sekarang. Oleh karena itu, tema perbudakan tidak luput dari pembahasan Schrikker. Ia menyinggung bahwa sejarah perbudakan secara umum lebih banyak dikaitkan dengan Karibia daripada dengan Indonesia. Nyatanya, perbudakan juga terjadi di Nusantara dan telah berlangsung selama berabad-abad. Secara lebih jauh, Schrikker menelusuri pengalaman orang-orang yang diperbudak itu sendiri; dari satu orang ke orang lain. Di bagian tema ini, ia mencoba menunjukkan bahwa hubungan birokrasi dengan orang-orang yang diperbudak menjadikan perbudakan sebagai sebuah fenomena sosial, yang terkadang tidak disengaja dan dengan hasil yang paradoksal.
Dalam bukunya, Schrikker terlihat sangat serius membahas perbudakan; terlebih ia mencoba mengelaborasinya dengan produk hukum (undang-undang dan birokasi) yang dikeluarkan sejak masa kolonial, yang dimaksudkan untuk melindungi orang-orang yang diperbudak, ternyata dalam praktiknya justru merugikan mereka. Berkaitan dengan perbudakan yang terjadi dalam periode panjang menuju penghapusan juga menjadi sebuah kacamata untuk melihat proses perubahan sosial secara umum dalam bab-bab ini. Aturan dan institusi baru terkadang memberikan kesan bahwa sesuatu telah berubah,tapi dalam sejarah perbudakan, menurut Schrikker, menunjukkan bahwa kebiasaan lama tidak begitu saja hilang dan terus dipaksakan.
Di bab-bab terakhir, yang dikelompokkan pada tema “pengetahuan dan bencana”, Schrikker mengeksplorasi transmisi pengetahuan historis dalam menghadapi bencana alam. Secara jelas ia menceritakannya pada letusan Gunung Awu di Pulau Sangihe Besar pada 1711. Menurut saya, upaya yang dilakukannya dalam memverifikasi arsip-arsip produksi kolonial (khususnya inventaris arsip Residensi Manado) dengan membandingkannya dengan tradisi lisan di tempat itu patut diapresiasi. Ia dapat membuka sedikit mengenai mengapa masyarakat tempatan di sana lebih mengingat letusan Gunung Awu pada 1711 dibandingkan dengan letusan pada tahun-tahun sesudahnya—padahal secara periode waktunya lebih baru. Selain itu, dua bab terakhir berfokus pada peran pengetahuan politik dan penyebaran pengetahuan selama periode antar-perang, serta reaksi-reaksi bencana yang ditimbulkannya di antara para administrator kolonial. Di sini saya menemukan para pekerja kolonial (baik masyarakat lokal maupun Belanda) dan masyarakat jajahan biasa menjalankan kehidupan apa adanya, baik di desa-desa maupun di kota walaupun pada periode antar-perang ini rezim kolonial Belanda semakin represif; misalnya tukang pos di Langsa yang menjadi agen-agen pergerakan anti-kolonial, seorang hakim mengumpulkan koleksi kupu-kupu di Digoel, dan cerita para perempuan di Banjarmasin yang ingin menggapai impian sederhananya
Sejarah Kolonial Tetap Ditulis seperti Biasanya
Meskipun penulis berkilah untuk tidak ingin membahas topik-topik tradisional—seperti perang, ekonomi, atau kebijakan—dan ingin beralih pada orang-orang yang menjadi bagian dari masyarakat kolonial, tapi ketika saya membaca rasa-rasanya sama saja seperti buku-buku lainnya yang membahas sejarah kolonial. Semua orang yang dianggap terpinggirkan—yang menurut Schrikker juga terpinggirkan dalam penelitian-penelitian akademiknya—bukan menjadi tema utama dalam sebuah riset sejarah yang serius. Saya jadi teringat Pak Bambang, guru saya: Orang-orang Belanda dalam menulis sejarah mereka di Indonesia tidak ada bedanya sejak dahulu sampai sekarang—tidak ada kebaruan dalam cara pandang mereka melihat masyarakat jajahan. Meskipun demikian, perlu diakui bahwa mereka mulai menghindari tema-tema besar dan menggunakan metode-metode yang lebih mutakhir.
Sejalan dengan hal itu, Schrikker dalam prolognya mengutip paradigma Ann Laura Stoler, yang menunjukkan bahwa pengetahuan yang tersimpan di dalam arsip-arsip kolonial seringkali lebih banyak bercerita tentang pandangan penguasa dibandingkan dengan realitas masyarakat lokal.3 Informasi yang ada di dalam arsip telah direkonstruksi sedemikian rupa oleh si penciptanya. Dan secara tidak sadar, sejarawan yang meneliti masa lalu, khususnya pada periode kolonial, terjebak pada pandangan atau perspektif si pencipta arsip. Jika demikian, seharusnya mereka yang didik sebagai sejarawan menghindari hal itu: Sederhananya jangan mudah percaya pada apa yang dideskripsikan dalam arsip dengan mengkritiknya dari berbagai perspektif.
Akan tetapi, kadang kala seorang peneliti sejarah—khususnya yang meneliti periode kolonial—tidak mempunyai sumber-sumber pembanding dan pada akhirnya hanya bertumpu pada arsip pemerintah. Bila kita pada posisi seperti itu, dua pendekatan (Along theGrain dan Against the Grain) yang dijabarkan oleh Stoler dalam bukunya berjudul Along the Archival Grain Epistemic Anxieties and Colonial Common Sense cukup berguna dalam mengungkap informasi sebuah arsip secara utuh. Pendekatan along the grain melibatkan pembacaan arsip sesuai dengan maksud dan tujuan asli si pembuatnya. Dengan kata lain, kita mencoba memahami arsip sebagaimana kolonialisme ingin merepresentasikan dirinya—mengikuti logika, struktur, dan narasi yang disajikan. Hal tersebut membantu mengungkap bagaimana kolonialisme dibangun oleh “akal sehat kolonial” (colonial common sense) dan hierarki sosial yang dianggap wajar saat itu. Sementara itu, against the grain merupakan kebalikannya; pendekatan ini berusaha membaca arsip secara kritis, mencari informasi yang tidak secara eksplisit disebutkan atau bahkan sengaja disembunyikan. Melalui pendekatan ini, kita dapat mengungkap ketegangan, kontradiksi, dan suara-suara yang terpinggirkan dalam narasi kolonial—atau bahkan untuk menemukan jejak-jejak masyarakat lokal yang mungkin diabaikan atau direduksi dalam arsip.
Kembali pada bukunya Schrikker, menurut saya, ia hanya mencoba mengungkap cerita-cerita dalam bukunya menggunakan pendekatan along the grain saja, khususnya menggunakan arsip sebagai sumber pertama dan utama untuk memahami semangat kolonialisme. Walaupun begitu, pengungkapan cerita-cerita kecil yang menarik dalam bukunya, dapat ditopang dengan menggunakan pendekatan sejarah mikro.
Catatan akhir:
- Alicia Schrikker, Kupu-kupu Boven-Digoel: Kumpulan Pergulatan Hidup Manusia di Pinggiran Kolonialisme.(Jakarta: Elex Media Komputindo, 2024). Buku ini aslinya berbahasa Belanda, dan diterjemahkan oleh Rianti D. Manullang. Saya mengenal mbak Rianti; tiga tahun lalu ia dan timnya dari Departemen Sastra Belanda UI, menerjemahkan buku panduan Museum Multatuli yang saya buat ke bahasa Belanda. Saya tidak meragukan hasil terjemahannya di buku Schrikker ini, memang sangat bagus dan sesuai seperti bahasa asalnya. Selain itu, saya cukup kaget ketika mengetahui buku ini diterbitkan oleh Elex Media. Bagi saya penerbit ini biasa mengeluarkan tema-tema pseudo-histori, konspirasi, atau komik bergambar. Grup penerbit Gramedia seharusnya bisa menerbitkannya di bawah KPG atau Kompas. Entah apa tujuannya, mungkin saja untuk merambah pembaca lewat penerbit yang juga biasa mengeluarkan buku-buku sejarah populer. ↩︎
- Lihat https://opac.humaliterasi.id/index.php?p=show_detail&id=236&keywords=rosihan+anwar | ↩︎
- Lihat Ann Laura Stoler, Along the Archival Grain: Epistemic Anxieties and Colonial Common Sense. (Princeton: Princeton University Press, 2010). ↩︎



