Dark Light

Musim semi di Belanda, kan, identik sama tulip (Tulipa sp.), ya. Jadi, sebagai mahasiswa turis yang cuma ngalamin satu kali musim semi selama tinggal di Belanda, aku antusias banget mau liat tulip-tulip cantik yang kayak di foto-foto. Aku juga pengen menikmati tulip in the most touristy way possible alias ✨pergi ke Keukenhof✨.

Keukenhof, tuh, taman besar di Lisse, sekitar 30 menit naik bus dari Leiden. Katanya, sih, Keukenhof ini “the most beautiful spring garden in the world“. Nggak cuma tulip, taman ini juga punya banyak koleksi bunga lain, kayak amarilis, anggrek, dafodil, dan muscari. Sebagai taman, sejarah Keukenhof nggak lepas dari Kastil Telyngen dan Kastil Keukenhof yang lokasinya nggak jauh dari situ. Sementara itu, sebagai tujuan wisata, Keukenhof pertama kali dibuka buat publik tahun 1950 (Welcome to Keukenhof).

Suasana di salah satu sudut Keukenhof, 13 April 2025

Sebenarnya, ada banyak cara untuk nikmatin keindahan tulip di Belanda. Selain pergi ke Keukenhof, wisatawan juga bisa berkunjung ke ladang tulip yang dibuka untuk umum. (Fyi, nggak semua ladang dibuka untuk wisata, ya! Jadi, nggak boleh sembarangan masuk ke ladang tulip!) Pertanian tulip di Belanda paling masif di Provinsi Holland Selatan dan Holland Utara, di area yang namanya Bollenstreek. Nah, wisatawan sebenarnya juga bisa liat-liat ladang tulip di sepanjang Bollenstreek ini naik transportasi umum (kereta atau bus), kendaraan pribadi (mobil atau sepeda—ternyata ada juga yang naik perahu, sungguh typisch Nederland!), atau jalan kaki.

Aku milih untuk pergi ke Keukenhof dan jalan kaki di sekitar Hillegom, salah satu kota kecamatan di Bollenstreek. Aku ke Keukenhof tanggal 13 April, sementara jalan kaki di Hillegom tanggal 19 April. Aku kira, aku bakal lebih suka waktu jalan kaki, tapi ternyata sampai sekarang Keukenhof masih terngiang-ngiang di kepala. Kunjungan ke Keukenhof itu somehow bikin aku (makin) sadar kalau penerapan ilmu pengetahuan yang dibarengi dengan kerja sama antar sektor adalah dua dari banyak kunci penting bagi keberhasilan suatu negara—dalam konteks ini ekonomi kreatif dan pariwisata.

Keukenhof dan Wisata Kreatif

Banyak orang bilang Keukenhof terlalu turistik dan overrated, lalu mereka lebih memilih pergi ke ladang tulip semacam Tulperij, The Tulip Barn, atau Tulip Experience Amsterdam (yang lokasinya bukan di Amsterdam wkwk). Menurutku, anggapan itu benar meskipun nggak seluruhnya. Keukenhof sebagai ikon wisata tulip di Belanda memang ramai banget, tentu bikin nggak nyaman sebagian orang. Tapi, situasi itu nggak bikin dia jadi membosankan. Waktu main ke sana, aku justru belajar dan sadar banyak hal baru yang mungkin nggak bakal didapat kalau ke ladang tulip biasa.

Buatku, bagian paling menarik dari Keukenhof adalah gedung Willem-Alexander. Di Keukenhof memang ada beberapa gedung yang dinamai menurut nama-nama penguasa dari House of Orange. Gedung paling besar, yang letaknya di tengah taman, meminjam nama Raja Belanda yang sedang berkuasa sekarang, Willem Alexander of Orange-Nassau. Gedung luas itu isinya pameran berbagai varietas tulip, bunga, dan tanaman lain yang ada di seluruh Keukenhof.

Di sinilah bagian uniknya. Ada seenggaknya ratusan varietas Tulipa sp., dengan berbagai bentuk dan warna, yang dipamerin di Willem-Alexander. (Menurut web Keukenhof, ada sekitar 500 varietas tulip yang dipamerin. Wow!) Saking uniknya bentuk dan warnanya, aku awalnya ngira kalau mereka bukan tulip! Saat itulah aku sadar kalau Belanda bener-bener udah investasi banyak buat industri pertulipan.

Bentuk tulip yang familiar
Salah satu varietas tulip yang dipamerin di Keukenhof

Ratusan varietas tulip di Willem-Alexander tentu nggak muncul begitu saja. Mereka hasil dari penelitian panjang tentang tulip—menemukan, mencatat, dan mengembangkan, bukan hanya di tingkat spesies, tapi juga varietas. Kalau melihat sejarah tulip sendiri, dia bukan tanaman asli dari Belanda. Tulipa datang dari wilayah Turki dan Asia Tengah (Persia), dan disebut-sebut pertama kali diperkenalkan ke Belanda pada pertengahan abad ke-16 via Antwerp. Menurut Ensiklopedia Britannica, Universitas Leiden jadi salah satu tempat budidaya tulip pertama kali yang dilakuin sama Carolus Clusius pada tahun 1590-an. (Tulip | Description, Flower, Cultivation, & Facts | Britannica)

Ratusan tahun berlalu sejak Carolus Clusius tanam tulip di Hortus Botanicus (History | Hortus Leiden) dan Belanda ngalamin “Tulip Mania” di tahun 1633-1637. Tulip sekarang jadi semacam ikon musim semi Belanda. Ratusan ribu (atau mungkin jutaan?) wisatawan datang ke Belanda tiap tahun untuk lihat tulip—yang daur hidupnya cuma kurang lebih empat atau lima bulan sejak ditanam. Di area Holland, ada banyak aktivitas wisata berkaitan dengan tulip yang diadakan selama musim semi dan pastinya semua kegiatan itu dihadiri sama ribuan wisatawan. Keukenhof sendiri cuma buka sejak Maret sampai Mei tiap tahunnya. Ladang-ladang tulip udah mulai panen pada akhir April hingga pertengahan Mei. (Waktu bisa berubah tergantung cuaca. Kalau dingin, panen bakal mundur karena nunggu tulip mekar. Tapi tahun ini, beberapa ladang udah mulai panen pertengahan April karena cuaca hangat.)

Dengan kata lain, musim tulip cuma berlangsung beberapa bulan. Tapi, pernahkah kita berpikir berapa banyak uang yang dihasilkan dari industri itu?

Banyak.

Hasil Kolaborasi Antar Disiplin Ilmu

Tapi, kita nggak bisa cuma menilai kesuksesan sebuah tempat wisata dari banyaknya keuntungan ekonomi yang dihasilkan. Ada aspek-aspek lain, seperti latar belakang dan keberlanjutan (sustainability), yang harus dipahami secara holistik. Dari hasil acara main singkat ke Keukenhof, aku bisa lihat kalau kesuksesan industri tulip sebagai ikon pariwisata Belanda ini juga berkat kerja sama beberapa disiplin ilmu dan pengetahuan.

Hal pertama yang patut diapresiasi adalah riset panjang soal tulip di Belanda. Sebelum jadi ikon, tentu tanaman ini udah melalui jalan panjang budidaya, persilangan antarspesies untuk dapetin varietas baru yang menarik, penelitian tentang penyakit/hama dan cara penanggulangannya, serta seabrek penelitian lainnya. Untuk bisa memamerkan ratusan varietas, bayangkan betapa banyak waktu yang udah dihabiskan sama peneliti tulip di seluruh Belanda? Ini menunjukkan bahwa peneliti punya tempat dan peran penting di industri (wisata) tulip. Tanpa mereka, tulip di Belanda mungkin nggak bakal semenarik sekarang.

Berbagai varietas tulip di Willem-Alexander, Keukenhof. Cantik banget warnanya, yaa

Yang menarik, beberapa peneliti tulip itu datang dari komunitas petani. Ini aku sadari dari label nama yang tertera di Keukenhof. Selain informasi soal nama spesies dan varietas, terkadang ada juga informasi soal pembudidaya tulip. Sayangnya, aku cuma punya satu foto label nama semacam itu. Tapi, fakta ini membuktikan sentralnya posisi petani tulip! Tanpa mereka, nggak mungkin ada industri itu. Lagipula, produksi tulip paling besar justru bukan dari Keukenhof, melainkan di ladang-ladang pribadi yang dipunyai petani. Btw, lucu juga liat ladang tulip nyempil di tengah perumahan yang kalau di Indonesia pasti udah disebut perumahan elit, wkwk.

Salah satu varietas tulip. Di pojok kanan bawah, ada nama perusahaan petani yang bikin varietas ini
Ladang bunga di dekat perumahan di Hillegom

Aspek kedua ini, peran petani, tentunya juga nggak bisa dilepasin begitu aja dari hal ketiga yang sama pentingnya: Peran pemerintah. Yep. Industri (wisata) tulip di Belanda ini sangat, sangat didukung sama pemerintah. Iyalah, mustahil bisa populer secara internasional tanpa endorsement dan promosi dari pemerintah. Tapi, dukungan itu bukan cuma berhenti di promosi aja, melainkan juga lewat sistem yang memungkinkan industri (wisata) tulip bisa berlanjut dalam waktu lama. Lagi-lagi, dukungan ke kegiatan penelitian dan budidaya tulip jadi salah satu caranya. Hal ini sebenernya juga nggak mengherankan soalnya Belanda, tuh, sebenernya negara agraris. Dia eksportir kedua terbesar hasil agrikultur di dunia setelah Amerika Serikat (Agriculture and horticulture | Agriculture | Government.nl) dan ekspor bunga dalam bentuk bibit, termasuk tulip, merupakan salah satu penyumbang terbesar.

Terakhir, peran pengusaha dan pemilik modal juga membantu industri wisata tulip berkembang sampai sebesar sekarang. Dari sisi bisnis, tentu aja industri tulip sangat menjanjikan. Ratusan ribu (atau mungkin jutaan?) orang rela bayar minimal €9 cuma buat masuk ke Keukenhof (ini harga tiket untuk usia anak-anak sampai 17 tahun, sementara tiket orang dewasa harganya €20). Ini baru satu lokasi, belum termasuk ladang-ladang privat. No wonder manajemen dan promosi wisata tulip masif banget.

Pada akhirnya, pameran tulip di Keukenhof buka mataku bahwa lekatnya tulip dan Belanda ini adalah branding kuat yang dibangun bertahun-tahun; sama sekali bukan proses yang instan. Keberhasilan itu, menurutku, hasil dari kerja sama lintas sektor, mulai dari petani tulip, pemerintah, pengusaha, hingga peneliti dari berbagai disiplin ilmu (biologi, bisnis, pertanian, pemasaran, manajemen, dan lain-lain). Keberhasilan itu juga pada akhirnya memberi dampak baik buat semua sektor tadi; pengusaha diuntungkan dengan balik modal, pemerintah dapat eksposur luar negeri yang baik sebagai tujuan wisata, peneliti bisa berkarir dan mengembang ilmu sesuai passion, lalu petani juga diuntungkan karena industri tulip skalanya internasional.

Nggak ada yang instan, semua kemajuan dan hasil baik perlu proses yang mungkin aja makan waktu lama dan relatif sulit dilakukan awalnya. Tapi, saat hasil baiknya sudah terlihat dan proses sudah berjalan jadi sistem, keuntungan juga akan datang dengan sendirinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Total
0
Share