Felix Andries Vening Meinesz merupakan seorang geolog ternama dari Belanda yang hasil penelitiannya berkontribusi terhadap penghitungan gravitasi bumi dan formasi teori lempeng benua. Langsung bekerja di bawah Komisi Geodesi Belanda sejak kelulusannya dari Universitas Teknologi Delft pada 1910, Vening Meinesz memulai kariernya dengan mengembangkan peralatan yang sesuai untuk penelitian geologinya—hal yang mengantarkannya memperoleh titel doktor pada 1915. Setelah menyelesaikan peralatan, ia mulai melakukan investigasi terhadap lempeng benua dengan mengukur gravitasi bumi di dasar laut menggunakan sepasang pendulum yang dipasang di kapal selam. Rangkaian penelitian itu ia lakukan sejak 1923 hingga 1939.1 Tulisan ini bertujuan untuk memberikan pengantar kritis terhadap kajian Vening Meinesz, dengan berfokus pada kehadiran masyarakat tempatan dalam ekspedisi yang dilakukan di Indonesia pada masa kolonial. Meskipun keseluruhan ekspedisi yang dilakukan Vening Meinesz penting dan sentral bagi perkembangan ilmu geologi, saya secara khusus memilih penelitian yang ia selenggarakan di Hindia Belanda pada 1929 hingga 1930 karena keberadaan anggota kru lokal di dalam kapal selam yang ia gunakan. Untuk memeriksa bagaimana Vening Meinesz menghadirkan dan/atau membungkam suara para kru lokal tersebut, saya menghadirkan dua sumber berbeda: Gravity Expeditions at Sea Vol. Idan “By Submarine Through the Netherlands East Indies”.

(Source: Lewis Pyenson, Empire of Reason: Exact Science in Indonesia 1840-1940. Leiden: Brill, 1988, pp. 130.)
Membaca sumber kolonial mengenai produksi pengetahuan dengan tujuan menemukan suara masyarakat tempatan sama sekali bukan hal yang mudah, terutama ketika penelitian yang dilakukan oleh para periset Barat secara alami tidak membutuhkan banyak bantuan dari orang lain. Namun, keberadaan beberapa laki-laki asal Kepulauan Indonesia menimbulkan pertanyaan mengenai keterlibatan mereka di dalam penelitian Vening Meinesz pada 1929-1930. Untuk memahami hal tersebut, pertama-tama, saya membaca Gravity Expeditions at Sea Vol. Imenggunakan pendekatan along the grain untuk memperoleh gambaran besar mengenai penelitian tersebut serta alasannya membutuhkan atau tidak membutuhkan bantuan dari masyarakat tempatan. Kemudian, saya menggunakan against the grain untuk membandingkan Gravity Expeditions at Sea Vol. Idan “By Submarine Through the Netherlands East Indies” demi menemukan informasi eksplisit dan implisit mengenai para anggota kru lokal yang disebutkan dalam kedua sumber. Walaupun tidak memberikan banyak informasi mengenai mereka, dari “By Submarine Through the Netherlands East Indies”, saya menemukan kemungkinan alasan atas keberadaan kru lokal di ekspedisi tersebut dan juga pandangan Vening Meinesz secara umum terhadap masyarakat di Kepulauan Indonesia.
Dua Sumber Mengenai Ekspedisi di Kepulauan Indonesia

Pada 1932, Vening Meinesz mempublikasikan laporan ekspedisi sekaligus hasil dari penelitian-penelitiannya melalui empat volume buku berjudul Gravity Expeditions at Sea. Ia menjelaskan ekspedisinya di Hindia Belanda pada Bab V di buku pertama.2 Diterbitkan di bawah dukungan Komite Geodesi Belanda, buku-buku ini merupakan rilis resmi yang menjelaskan teknis proses dan hasil penelitian jangka panjang yang dilakukan oleh Vening Meinesz. Ditulis menggunakan nada formal, Vening Meinesz menyebut nama orang-orang yang ia anggap berkontribusi terhadap kesuksesan penelitiannya, antara lain Presiden Komite Geodesi, Angkatan Laut Belanda, dan kapten-kapten kapal selam yang ia gunakan dalam penelitian, di bagian pendahuluan buku. Penghargaan itu berlanjut di Bab I dengan penyebutan nama orang-orang yang membantu Vening Meinesz selama riset di berbagai tempat. Namun, catatan mengenai kru lokal hanya muncul di Bab V ketika Vening Meinesz berkomentar tentang staf dan kru kapal selam Hari. Ms. K XIII yang khusus ia gunakan selama ekspedisi di Hindia Belanda.
Satu tahun sebelum bukunya terbit, Vening Meinesz pernah menulis sebuah artikel mengenai ekspedisi yang sama: “By Submarine Through the Netherlands East Indies”.3 Sementara penjelasan di buku lebih fokus pada hasil penelitian gravitasi di laut, Vening Meinesz menyediakan banyak informasi mengenai perjalanannya dalam “By Submarine Through the Netherlands East Indies” sehingga dapat dikatakan bahwa artikel tersebut merupakan sebuah catatan perjalanan. Ditulis menggunakan gaya yang kurang formal dibanding buku, artikel tersebut awalnya dibacakan pada pertemuan Society pada 17 November 1930 (tidak ada informasi mengenai Society yang dimaksud, tetapi saya menduga itu merujuk pada Royal Society of London, perkumpulan ilmuwan tempat Vening Meinesz berpartisipasi aktif sebelum akhirnya menjadi anggota asing pada 1936).4 Dalam artikel tersebut, Vening Meinesz beberapa kali menyebut soal anggota kru lokal di K XIII. Namun, penjelasannya yang lebih menyoroti aspek etnografis dari wilayah-wilayah yang ia kunjungi alih-alih kehidupan dan penelitian di dalam sebuah kapal selam membuat keberadaan para anggota kru seperti ada dan tiada. Meskipun demikian, beberapa aspek mengenai perspektif Vening Meinesz mengenai masyarakat tempatan di Kepulauan Indonesia dapat diperoleh dari perbandingan antara buku dan artikel tersebut.
Membandingkan Dua Sumber Mengenai Masyarakat Tempatan
Perjalanan di perairan Indonesia dimulai pada 12 Juni 1929 dengan tujuan melakukan survei gravimetri terhadap laut-laut di kepulauan Indonesia untuk memperoleh pengetahuan rinci mengenai dasar laut. Penelitian ini mencakup wilayah seluas 16.000 mil dan berhasil mengumpulkan data gravitasi dari 233 titik.5 Terdapat tiga segmen berbeda dalam ekspedisi tersebut; pelayaran pertama mencakup bagian timur kepulauan sejak 12 Juni hingga 12 Agustus 1929,6 bagian kedua memeriksa perairan Sulawesi sejak 8 Oktober hingga 14 November 1929,7 dan yang terakhir meneliti perairan seputar Sumatra sejak 2 Januari hingga 15 Februari 1930.8

Dalam Gravity Expeditions at Sea, Vening Meinesz selalu menyebutkan jumlah perwira dan anggota kru kapal selam di bagian awal deskripsi mengenai ekspedisinya. Ia terkadang menyebutkan nama-nama perwira, tetapi terkadang tidak juga. Tetapi, ia selalu menyebutkan nama panglima kapal selam dan tidak menyebutkan nama-nama kru. Namun, pada penjelasan tentang ekspedisi di Kepulauan Indonesia, ia secara spesifik menyebutkan keberadaan sepuluh anggota kru lokal.9 Catatan semacam itu tidak pernah ada di ekspedisi-ekspedisi lain, termasuk penelitian di Jawa dan bagian lain kepulauan yang ia lakukan setahun sebelumnya, sehingga saya berasumsi bahwa para kru tersebut telah direkrut secara khusus untuk ekspedisi keliling Hindia Belanda itu. Terlebih lagi, catatan itu juga sekaligus merupakan satu-satunya bukti eksistensi masyarakat tempatan di buku Vening Meinesz.
Situasi yang berbeda—meskipun tidak terlalu jauh—terekam dalam “By Submarine Through the Netherlands East Indies” yang menyebutkan masyarakat tempatan Kepulauan Indonesia dan kru lokal K XIII beberapa kali. Saat menjelaskan mengenai kendaraan yang ia gunakan dalam riset, Vening Meinesz menyebutkan bahwa terdapat 18 awak, termasuk 7 orang lokal, di kapal selam yang panjangnya sekitar 25 kaki (7,62 meter) tersebut. Informasi mengenai jumlah awak lokal tersebut merupakan hal berlawanan pertama yang ditemukan saat membandingkan antara buku dan jurnal. Namun, sama halnya dengan di buku, tidak ada satu pun nama kru yang disebutkan dalam artikel, kecuali nama sang kapten, Goris Mante, yang sangat dihormati oleh Vening Meinesz karena kemampuannya.10 Perbedaan kedua antara buku dan artikel adalah fakta bahwa Vening Meinesz tidak hanya menyebutkan soal jumlah, tetapi juga jenis kelamin dan etnis para anggota kru lokal.11 Di bagian akhir artikel, ia juga mengutip seorang anggota kru lokal dengan nada simpatik,12 mengindikasikan bahwa ia kemungkinan memperlakukan mereka setara dengan anggota kru Eropa, yang sama-sama bekerja secara profesional di bawah Angkatan Laut Hindia Belanda. Hal ini, ditambah dengan sifat alamiah penelitiannya yang tidak membutuhkan banyak bantuan dari orang lain, merupakan kemungkinan alasan Vening Meinesz mengabaikan anggota kru lokal dalam tulisannya, karena mungkin ia berpikir bahwa mereka tidak berkontribusi terhadap penelitiannya atau kontribusi mereka sangat minimal hingga menjadi tidak signifikan untuk disebutkan secara khusus.
Lebih lanjut lagi, Vening Meinesz tampak memiliki ketertarikan yang kuat terhadap aspek antropologi Kepulauan Indonesia, yang mengisi sebagian besar deskripsi dalam artikelnya. Saat menjelaskan penduduk di wilayah-wilayah yang ia kunjungi, Vening Meinesz menyadari keberagaman etnis dan, oleh sebab itu, membuat deskripsi yang berbeda-beda untuk tiap wilayah. Namun, ia secara umum memandang penduduk kepulauan sebagai masyarakat tanpa agensi yang hanya dapat mencapai kemajuan dengan bantuan dari pemerintah kolonial. Ia juga beberapa kali menjelaskan sejarah dan situasi politik tempat ia singgah, salah satunya Bali.13 Dari deskripsinya, walaupun Vening Meinesz sama sekali tidak mencantumkan referensi, saya berasumsi ia memperoleh informasi-informasi mengenai penduduk dan wilayah-wilayah tersebut dari sumber sekunder, khususnya buku-buku Barat. Tidak hanya sangat dipengaruhi oleh persepsi dan pengetahuan Barat yang berkembang pada saat itu, gaya penulisan Vening Meinesz juga memiliki jarak dengan subjek narasi. Selain itu, Vening Meinesz juga menghadirkan beberapa foto etnografis dalam artikelnya—foto-foto yang saya ragu diambil secara langsung pada saat ekspedisi karena tidak ada catatan mengenai keberadaan fotografer dalam krunya.
Kesimpulan
Ekspedisi Vening Meinesz di Kepulauan Indonesia pada 1929 sampai 1930 utamanya menunjukkan sesuatu yang seringkali turut serta dalam produksi pengetahuan saintifik: pengabaian peran masyarakat tempatan. Tidak hanya membantu sebagai asisten, tukang masak, porter, dan sebagainya, tetapi mereka juga seringkali merupakan informan penting dalam sebuah penelitian. Beberapa peneliti secara jujur menyebutkan peran mereka, tetapi ada juga yang secara sengaja mengabaikan. Pada ekspedisi Vening Meinesz, penyebutan itu sangat terbatas, tetapi tetap mengindikasikan beberapa hal. Pertama, terdapat para pelaut lokal di kapal selam Angkatan Laut Hindia Belanda yang berkontribusi terhadap ekspedisi Vening Meinesz hingga level tertentu. Kedua, para pelaut lokal tersebut, yang hanya ada di satu ekspedisi khusus, kemungkinan besar direkrut secara khusus pula untuk kepentingan ekspedisi tersebut. Dengan demikian, mereka kemungkinan memberikan informasi penting mengenai wilayah-wilayah yang dikunjungi selama ekspedisi kepada Vening Meinesz atau, setidaknya, membantunya berlayar dan menjalankan riset dengan nyaman berkat informasi pelayaran yang mereka ketahui. Meskipun demikian, karena mereka kemungkinan adalah pelaut yang bekerja di bawah Angkatan Laut, maka tugas utama mereka adalah membantu kapten kapal dan, dengan begitu, tidak secara langsung terlibat dalam penelitian. Terakhir, fokus dalam deskripsi Vening Meinesz mengenai penduduk tempatan juga mempengaruhi pengabaian terhadap peran orang lokal dalam penelitiannya. Alih-alih menjelaskan kenapa dan bagaimana mereka bisa bergabung ke dalam kru, atau kehidupan dan proses penelitian di dalam kapal selam, Vening Meinesz memilih untuk memberikan narasi etnografis sepanjang perjalanannya, yang saya asumsikan diperoleh dari sumber sekunder.
- Bruins and Scholte, “Obituary Felix Andries Vening Meinesz, 1887-1966”, pp. 296-297 https://doi.org/10.1098/rsbm.1967.0015, accessed on 17 November 2024 ↩︎
- Vening Meinesz, Gravity Expedition at Sea Vol. I The Expedition, The Computations and The Results, Delft: N.V. Technische Boekhandel en Drukkerij J. Waltman Jr., 1932, pp. 67-99 ↩︎
- Vening Meinesz, “By Submarine Through the Netherlands East Indies”, The Geographical Journal, Vol. 77, No. 4 (Apr. 1931), pp. 338-348 ↩︎
- Bruins and Scholte, op.cit., p. 303 ↩︎
- Vening Meinesz, Gravity Expedition at Sea Vol. I, p. 9 ↩︎
- Ibid., p. 72 ↩︎
- Ibid., p. 78 ↩︎
- Ibid., p. 80 ↩︎
- Ibid., p. 71 ↩︎
- Vening Meinesz, “By Submarine”, p. 339 ↩︎
- Ibid., p. 343 ↩︎
- Ibid., p. 348 ↩︎
- Ibid., p. 340 ↩︎




