Dark Light

(Disadur dari buku saya, Dari Bahasa ke Bahasa: Pengaruh & Penerjemahan Max Havelaar di Dunia,ch. VII, pp. 151-154. Artikel ini boleh dikutip, tapi dengan sitasi yang jelas.)

Sebelum Max Havelaarmulai diterjemahkan ke bahasa Korea, satu-satunya penulis Belanda yang dikenal di negeri gingseng itu hanyalah Hendrick Hamel. Ia adalah orang Barat pertama yang memberikan catatan langsung tentang keadaan Korea di bawah dinasti Joseon pada pertengahan abad ke-17. Setelah menghabiskan 13 tahun di tempat itu sebagai tahanan, ia lalu menulis catatan harian yang diterbitkan pada 1668 dengan judul (dalam bahasa Inggris) Hamel’s Journal and a Description of the Kingdom of Korea, 1653-1666. Jurnal tersebut tidak pernah diterjemahkan ke bahasa Korea; orang-orang Korea membacanya dalam terjemahan Inggris dan Prancis. Selain itu, saat buku Hamel diterbitkan, di Belanda hampir tidak ada orang yang mengenalnya. Akan tetapi di Korea ia bak selebriti karena merupakan orang pertama yang menulis tentang Korea.

Di akhir tahun 1994, terjemahan Max Havelaar dalam bahasa Korea ada di toko buku, dan awalnya sukses besar. Edisi pertama itu dicetak sebanyak 4000 eksemplar. Dalam beberapa majalah mingguan di Korea Selatan, dikatakan bahwa Belanda bukan hanya negeri kincir angin dan tulip, tetapi juga negara yang banyak menghasilkan penulis besar.1 Itulah yang menggugah Myong-Suk Chi2–penerjemah Max Havelaar ke dalam bahasa Korea–untuk mengenalkan bahwa memang ada literatur Belanda lainnya. Di beberapa surat kabar bahkan menyebutkan bahwa Multatuli ibarat Shakespeare-nya Belanda.3 Bagi Chi, pemberitaan yang terakhir ini agak berlebihan. Ia juga terkejut menerima kabar jika Max Havelaarmerupakan karya eksperimental, sangat diminati dan termasuk di antara buku terlaris tak lama setelah terbit. Hal itu dikarenakan, tidak biasa bagi tiga narator berbicara dalam satu novel–orang Korea sebelumnya hanya mengenal satu narator.4

Sampul Max Havelaar bahasa Korea terjemahan Myong-Suk Chi (1994)
(Sumber: multatuli.online)

Menurut Chi, anti-kolonialisme menarik bagi kaum muda Korea. Pendudukan wilayah Korea oleh Jepang dari 1910 hingga 1945, masih diingat oleh orang Korea dan kebencian terhadap Jepang masih besar hingga kini. Lebih jauh, menurut Chi, kolonialisme Belanda memiliki tatanan yang sangat berbeda dengan apa yang terjadi di Korea ketika dijajah Jepang.5 Jepang hanya berada di Korea untuk waktu yang relatif singkat jika dibandingkan dengan Belanda di Indonesia yang bercokol sejak awal abad ke-17. Akan tetapi ada banyak kesamaan ketika orang-orang Korea membaca Max Havelaar: Buku itu menunjukkan wajah kolonialisme yang sebenarnya. Selain itu, narasi kolonialisme di tengah masyarakat Korea pada periode sebelumnya tidak banyak dibincangkan; lebih banyak narasi sisi buruk komunisme daripada kekejaman dan kolonialisme Jepang pada PD II. Ini tidak lain adalah efek dari Perang Dingin sehingga Korea menjadi korban dengan dibaginya semenanjung itu menjadi dua negara, Korea Utara dan Selatan.

Myong-Suk Chi
(Sumber: Het Parool, 11 Februari 1995)

Di balik larisnya Max Havelaar dan diterima baik oleh para kritikus sastra di Korea, keberhasilan penjualan sayangnya hanya berumur pendek. Walaupun begitu, ulasan di surat kabar sangat membantu dalam penyebaran karya Multatuli ini. Seperti yang dikatakan dalam Choson Chung’ang, Max Havelaar cukup berpengaruh untuk membangkitkan keraguan moral dan penyesalan hati nurani orang Eropa tentang kolonialisme yang telah menjadi darah daging, dan sudah selayaknya buku ini juga dibaca oleh masyarakat Korea bila ingin membandingkannya dengan kekejaman Jepang.6 Selain itu, surat kabar Tong’a ilbojuga membuat ulasan novel Multatuli: Menyebut Max Havelaar sebagai novel anti-kolonial, di mana Eropa menunjukkan wajah sebenarnya sebagai bangsa kolonialis yang saling bersaing untuk memperebutkan Asia.7

Terakhir, Chi mengkritik Multatuli, bahwa ia tidak pernah belajar apa pun dari kebijaksanaan Timur–walaupun tidak dapat dibandingkan dengan jiwa zaman di mana Multatuli hidup dengan yang terjadi saat ini. Semua lontarannya didasarkan pada kacamata modernitas dalam perspektif Barat.


Catatan akhir:

  1. Moor van der Meulen, “Max Havelaar loopt prima in Seoel”, Het Parool, 11 Februari 1995. ↩︎
  2. Myong-Suk Chi memiliki gelar master dalam Bahasa dan Sastra Belanda. Setelah lulus pada 1983 di Universitas Leiden, ia mulai mencoba menerjemahkan karya sastra klasik Belanda ke dalam bahasa Korea, termasuk Max Havelaar. ↩︎
  3. Choson Chung’ang, 8 Desember 1994. ↩︎
  4. Cornald Maas, “Droogstoppel tussen Koreaanse tekens”, De Volkskrant, 10 Maret 1995. ↩︎
  5. Myong-Suk Chi, “Multatuli in Korea”, Over Multatuli, Delen 36-37, 1996, hlm. 69. ↩︎
  6. Choson Chung’ang, 8 Desember 1994. ↩︎
  7. Tong’a ilbo, 12 November 1994. ↩︎
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Total
0
Share